Kali kedua menjadi asisten dosen di mata kuliah kesayangan,
diawali dengan sejuta harapan yang melambung tinggi...
Yah, namanya harapan mah... siapa juga boleh punya ya...
Pertemuan pertama,
ditakuti dengan jumlah mahasiswa yang hampir dua kali lipat dari jumlah sebelumnya...
Takut? IYA!!!!
Ga kenal dosennya pula...sementara dosen seksi lain malah lebih dulu kenal sama saya.... Saya ga kenal sama sekali sama dosen saya.
Pertemuan kedua, ketiga, keempat, sampai pertemuan siang tadi,
begitu banyak waktu terlewatkan...
Menghabiskan setiap Kamis dengan berjibaku melawan rasa malas dan enggan belajar.
Kalo saya saja malas, apalagi anak-anak? Maka saya rajin mengerjakan printilan dengan niat dan harapan bahwa semua akan membantu anak-anak, jauuuuh jauhhhh hari sebelum Kamis datang lagi.
Deg-degan setiap jam 9 dan anak-anak belum lengkap.
Sebel kalo alat tes berantakan...
Kesel kalo perform ga bagus...tugas ga dikumpul...
Kadang saya bertanya dalam diri, apakah cara saya dan tim salah? Atau materi yang terlalu berat? Atau apa yang sebenarnya menghambat pembelajaran di kelas?
Semua kekesalan itu kadang terhapus oleh tingkah konyol dan bodoh yang masuk akal (bawa ular itu GA MASUK AKAL SIH!) atau dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang..duuhhh...ini loh yang saya mau... kelas yang aktif bertanya, belajar, ingin tahu... :') atau dengan membaiknya performa di minggu depan.
Hal-hal yang mungkin menurut mereka tidak terlalu berarti, tapi sungguh berarti buat saya. Entah menggores sakit hati atau mengukir senyum
Tiga perempat jalan sudah dilewati...
susah, senang, ketawa, sebel, nangis, gondok, ngomel, udah bosen dikeluarin selama hampir satu semester berjalan.
Ga ada maksud membandingkan dengan kelas lalu...
tapi namanya orang punya pengalaman, bawaannya pasti membandingkan... apalagi sama masa lalu...
namanya manusia...kadang susah move on...
Semoga di akhir perjalanan nanti, saya punya kesempatan untuk menulis lebih banyak tentang kelas yang istimewa ini.
Semoga ^^
Ini adalah cerita saya, tentang dunia tempat saya berdiri dan berpijak, tentang keluarga saya, tentang sahabat saya, tentang cinta dan benci, tentang masa lalu dan masa kini. Saya tidak meminta anda untuk protes... Semua ini cerita saya dan mari berbagi tulisan :)
Kamis, 13 November 2014
Jumat, 12 September 2014
Day 22: Ayah Kelinci dan Ulang Tahun Putra-Putranya
“Jadi, apa yang kalian inginkan untuk hadiah ulang tahun kalian? Kelereng, permen, atau bola?” tanya Ayah Kelinci pada ketiga putranya. Ketiganya menggeleng serempak. “Pedang kayu atau baju bajak laut atau layang-layang?” Ketiga anak kelinci itu masih menggelengkan kepalanya, lalu menjawab serentak, “Kami ingin makan daging gajah atau ikan paus”
“Apa?” ayah kelinci membelalakkan matanya terkejut. Ketiga kelinci itu tertawa lebar, “Iya! Ayah tidak salah dengar! Satu-satunya hadiah yang kami inginkan adalah makan gajah atau ikan paus. Menurut Ayah, apakah Ayah bisa mendapatkannya?”
Ayah kelinci diam sejenak. “Tentu saja!” jawabnya tergagap. “Ti..tidak ada yang tidak mungkin bagi Ayah! Kalian tentu tahu itu bukan?”
Ayah kelinci lalu keluar rumah sambil menggerutu. Huh! Gajah atau ikan paus! Keduanya adalah binatang paling besar di dunia. Bagaimana mungkin ia bisa menangkapnya. Dia tidak sekuat itu. Ayah kelinci memutar otaknya dan akhirnya ia hanya menemukan satu cara untuk mendapatkan hadiah untuk anak-anaknya. Dengan tipu muslihat! Dengan membawa rantai panjang yang sangat kuat, ia pergi menemui Gajah.
“Temanku, aku ingin memperingatkanmu bahwa Ikan Paus membual kepada semua orang yang mau mendengarnya bahwa ia lebih kuat dari padamu,” bisik Ayah Kelinci dengan hati-hati. Mendengar bisikan itu, marahlah Gajah, “Benarkah? Kalau begitu, usahakanlah agar kami berdua bisa membandingkan kekuatan kami. Biar nanti kelihatan siapa di antara kami yang lebih kuat!”
“Justru itu, aku akan memberi kepada kalian masing-masing salah satu ujung rantai yang kuat ini. Begitu aku memberi tanda, kalian akan mulai saling menarik sekuat tenaga dan kita akan melihat siapa di antara kalian yang lebih kuat!” lanjut Kelinci.
Gajah pun menerima tantangan itu dan meraih rantai itu dengan belalainya. Kelinci cerdik itu segera berlari ke tepian laut dan berkata kepada Ikan Paus dengan nada marah, “Temanku, aku ingin memperingatkanmu bahwa Gajah membual kepada semua orang yang mau mendengarkannya bahwa ia lebih kuat darimu.”
“Benarkah? Biarlah dia datang beradu denganku! Aku akan melawannya dengan sungguh-sungguh!” Ikan Paus meludah sambil tersinggung.
“Saat ini ia bahkan sudah memegang ujung rantai ini dan menunggumu untuk melakukan hal yang sama untuk melihat siapa yang lebih kuat,” lanjut Kelinci memanas-manasi. Dengan segera Ikan Paus merebut rantai itu dari tangan Kelinci dan mengikatkannya di sekeliling ekornya.
Ayah kelinci memberikan tanda bahwa pertandingan akan segera dimulai. Setelah itu, ia duduk dengan tenang di rumput sambil menunggu keberhasilan tipu muslihatnya. Kedua binatang itu tarik-menarik sekuat tenaga.
Setelah satu jam berlalu, ternyata Gajah lebih kuat. Ia berhasil mengeluarkan Ikan Paus dari air dan menariknya sampai ke hutan kecil dekat laut. Ikan Paus pun mati karena tidak ada air dan tidak dapat bernafas. Ayah kelinci yang mengetahui hal ini langsung berlari menghampiri Gajah, “Bravo Gajah! Kamu memang binatang terkuat di dunia! Kamu pantas menang melawan Ikan Paus!” Lalu dengan cekatan, Ayah Kelinci segera membuka ikatan rantai dan memanggil ketiga putranya. “Anak-anak! Selamat ulang tahun! Hadiah kalian sudah datang! Hari ini kita makan daging ikan paus!”
Tentu saja daging ikan Paus terlalu besar untuk mereka sekeluarga. Akhirnya mereka mengundang semua binatang di hutan dan bersantap bersama merayakan ulang tahun tiga anak kelinci itu.
#fairytale #dongeng #dongenganak #ceritaanak #fabel #30harimendongeng
Dikutip dari 30 Cerita Ulang Tahun, karangan Catherine Mory
Label:
30 hari mendongeng,
Cerita Anak,
Dongeng,
Dongeng Anak,
Fairy Tale
Kamis, 11 September 2014
Day 21: Tiga Puluh Ribu Malam
Dahulu kala di Jepang, tinggalah seorang laki-laki tua dan seorang perempuan tua bernama Kino dan Kaede. Keduanya telah menikah puluhan tahun dan tetap saling mencintai dengan penuh kasih sayang.
Setiap malam tiba, mereka duduk bersama dan mengingat kembali kenangan-kenangan masa lalu yang dipenuhi gelak tawa dan belaian. Hanya satu hal yang mereka hindari, yaitu membicarakan hilangnya anak mereka, Bulan Mei, yang hidupnya berakhir dua minggu setelah kelahirannya. Sejak kehilangan itu, Kaede hanya hidup untuk Kino dan Kino hanya hidup untuk Kaede
Suatu malam, ketika sedang memandang bulan purnama, sebuah bintang jatuh di kaki mereka. Karena silau, mereka menutup mata dan ketika mereka membukanya kembali, mereka melihat seorang perempuan mungil yang berkilauan.
“Saya adalah peri cinta,” katanya, “Sudah tiga puluh ribu malam saya mengamati kalian berdua. Cinta kalian tak pernah sirna sedikitpun. Itulah sebabnya saya ingin memberikan penghargaan kepada kalian. Ucapkanlah sebuah permintaan dan saya akan mengabulkannya”
Kedua insan tua itu saling memandang dengan ekspresi terkejut. “Kamu pasti punya ide yang sama denganku,” gumam Kino kepada Kaede dengan mesra. “Tentu saja,” sahut Kaede. Mereka membuka mulut dengan serentak. Namun ternyata permintaan mereka sangat berbeda.
“Saya ingin kembali menjadi muda,” kata Kino dengan tegas.
“Saya ingin menemukan kembali Bulan Mei kecilku,” kata Kaede.
Mereka tercengang dengan permintaan mereka yang tidak sama. “Menemukan Bulan Mei adalah hal yang mustahil! Kita sudah terlalu tua untuk mengurus bayi,” Kino berseru.
“Biarkan saja! Aku ingin memeluknya!” kata Kaede antusias.
“Coba pikir, jika kita muda kembali, kita bisa mendapatkan bayi-bayi lainnya!”ucap Kino mulai naik darah.
“Tidak mau! Aku hanya mau Bulan Mei!” teriak Kaede balas membentak.
Itulah pertama kalinya mereka bertengkar. Sang peri cinta akhirnya tak tahan dan menegur mereka. Mendengar teguran sang Peri, mereka menghentikan perdebatan mereka. “Maafkan aku, Kaede. Tidak semestinya aku naik darah. Biarlah keinginanmu yang terkabulkan,” kata Kino memohon dengan malu.
“Tidak. Akulah yang harus meminta maaf. Ayo kita pilih keinginanmu,” jawab Kaede. Akhirnya sang peri mengundi dan keinginan Kinolah yang menang. “Kalian masing-masing pergilah ke tepi danau yang berada di bawah gunung. Setiap teguk yang kalian minum akan membuat kalian bertambah muda sepuluh tahun,” kata peri itu menjelaskan. Tak lama kemudian, peri itu menghilang.
Ketika pagi tiba, Kino dan Kaede bangun dan segera berjalan menuju danau dengan bertumpu dengan tongkat mereka. Mereka saling membantu selama perjalanan itu. Beberapa jam sesudahnya, mereka berpisah di tepi danau yang terpisahkan oleh ilalang.
Kaede melihat sebuah siluet mendekatinya sambil menari-nari. Ia tertawa. Itulah pemuda tampan yang telah membuatnya jatuh cinta sejak bertahun-tahun yang lalu. Kaede lalu segera meminum air danau itu, karena ia tahu bahwa Kino pasti menantinya.
Namun sampai malam tiba, Kaede tidak kembali. Kino mencarinya. Ia berlari mengitari danau dan mencari Kaede. Tak ada orang. Yang ada hanya teriakan lirih dari balik alang-alang. Dia menyibakkannya dan terlihat seorang bayi cantik dan masih merah menangis.
“Bulan Mei! Tapi bukan! Itu bukan kamu… Kamu pasti… Kaede!” seru Kino dengan terheran-heran. Ternyata Kaede telah minum dua teguk lebih banyak daripada Kino dan menjadi bayi. Kino menggendongnya.
“Yang kugendong saat ini adalah Kaede, namun aku merasa seakan-akan menemukan kembali Bulan Mei kecilku. Jadi Kaede, kamu berhasil: kedua keinginan kita terwujud sekaligus. Itu kan, yang kau inginkan, Gadis Kecilku?”
Ajaib. Seakan mengerti, bayi kecil itu tersenyum sambil berceloteh dengan riang.
#fairytale #dongeng #dongenganak #ceritaanak #fabel #30harimendongeng
Dikutip dari 30 Cerita Ulang Tahun, karangan Catherine Mory
Label:
30 hari mendongeng,
Cerita Anak,
Dongeng,
Dongeng Anak,
Fairy Tale
Rabu, 10 September 2014
Day 20: Luisa dan Serigala Perak
Luisa tinggal di rumah kecil di tepi hutan bersama dengan kakeknya. Pada hari ulang tahunnya yang -keenam, Luisa mengundang teman-teman sekolahnya untuk bermain bersamanya. Setelah berkumpul semuanya, mereka sepakat untuk bermain lempar kaleng tiga putaran, kucing jongkok dua putaran, dan akhirnya mereka akan bermain petak umpet.
Luisa lari bersembunyi. Ia meringkuk di bawah sebuah pohon ek tua yang sangat besar. Tiba-tiba ia merasa sebuah belaian lembut dan hangat di dekat kakinya. Ia menunduk dan melihat kakinya berada di dekat benda berbulu abu-abu. Ternyata itu adalah ekor serigala. Dengan ketakutan ia melompat ke belakang.
Badan binatang itu tersembunyi di belakang semak-semak. Luisa menyentuhnya dengan tongkat perlahan-lahan. Hatinya berdebar. Namun, tak ada reaksi. Luisa memberanikan diri untuk mendekat dan mengangkat sebuah dahan pohon. Seekor serigala besar yang tampak kurang sehat berbaring di sisinya. Matanya yang tajam, tetapi redup itu bergerak mengikuti Luisa. Kakinya terjebak dalam perangkap pemburu. Nampaknya sudah berhari-hari ia terjebak di situ. Ia nampak lemas karena kekurangan air dan makanan. Luisa mengulurkan tangannya dan perlahan-lahan membelainya.
“Luisa? Luisa? Tunjukkan dirimu, kamu sudah menang!” Teman-temannya memanggil Luisa dan ia pergi menemui mereka, namun Luisa tak menceritakan serigala itu.
Sore harinya, Luisa kembali lagi ke pohon ek tua itu. Serigala itu masih di sana. Ia menuangkan air ke dalam mangkuk dan memberinya minum. Luisa juga membuka perangkap pemburu, membersihkan kakinya, dan membebatnya. Setelah Luisa membelai serigala itu, ia pulang ke rumahnya. Hampir setiap hari Luisa datang menjenguk serigala itu dan setiap ia datang, mata serigala itu menyorotkan sinar yang hampir seperti manusia.
Luisa sering bercerita tentang kehidupannya kepada serigala itu. Serigala itu seakan mengerti cerita Luisa. Ketika Luisa menceritakan perbuatan jahat yang menimpa dirinya, serigala itu menyeringai dan menggeram, namun ketika Luisa menceritakan hadiah yang diterimanya, mata serigala itu menjadi lembut dan ceria.
Sedikit demi sedikit serigala itu sembuh. Suatu hari, Luisa menemukan serigala itu berdiri di dekat pohon ek. Luisa sangat gembira dan memeluk serigala itu. Namun hatinya tiba-tiba merasa tercekam: setelah binatang itu bisa berjalan lagi, persahabatan mereka akan berakhir. Serigala itu akan pergi dan Luisa tidak akan melihatnya lagi.
Luisa pergi sambil menangis. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah yang mengikutinya. Ia menoleh ke belakang, dan ternyata serigala itu mengikutinya sambil terpincang-pincang. Ia pun tidak ingin meninggalkan Luisa. Pada malam hari, Luisa meninggalkannya di depan pintu dan keesokan paginya, Luisa tetap menemukannya di tempata yang sama. Tentu saja kakek Luisa marah. Ia melarang Luisa untuk bermain bersama serigala itu. Serigala itu diusirnya. Luisa sangat sedih. Ia menangis berhari-hari lamanya.
Kehidupan pun kembali seperti dulu. Namun pada suatu hari, rumah kecil itu kedatangan pencuri. Kakek Luisa mendengar suara yang aneh. Bukan suara yang dikenalnya seperti jatuhnya batang pohon yang mati atau jeritan burung malam. Laki-laki tua itu bangkit dari tempat tidurnya dengan gemetar. Usianya sudah tak lagi muda untuk melawan pencuri.
Tiba-tiba ia mendengar raungan ketakutan diikuti teriakan dan derap kuda. Akhirnya semuanya hening lagi. Setelah menunggu beberapa saat, kakek Luisa turun dan mengambil pelitanya. Di depan rumah, sosok abu-abu cukup besar terlihat: ternyata si serigalalah yang telah menyerang para pencuri dan membuat mereka lari tunggang langgang.
Akhirnya kakek Luisa paham bahwa binatang itu sama sekali tidak berbahaya, baik bagi cucunya maupun dirinya. Sebaliknya, serigala itu adalah penjaga yang hebat. Sejak saat itu, kakek menerima serigala tinggal di rumah itu dan segera saja mereka bertiga menjadi sahabat baik.
#fairytale #dongeng #dongenganak #ceritaanak #fabel #30harimendongeng
Dikutip dari 30 Cerita Ulang Tahun, karangan Catherine Mory
Label:
30 hari mendongeng,
Cerita Anak,
Dongeng,
Dongeng Anak,
Fairy Tale
Selasa, 09 September 2014
Day 19: Gunung Emas dan Perak
Dahulu kala, di suatu tempat terpencil di daratan Cina, tinggallah dua kakak beradik. Yang sulung begitu kaya dan begitu kikir. Ia sampai tidur seperti anjing penjaga di pintu rumahnya agar tidak ada pencuri yang masuk. Sementara itu, si bungsu Tang, begitu miskin namun sangat pemurah. Saku-sakunya selalu kosong, walaupun baru saja diisi.
Suatu hari, Tang menemui kakaknya dan berkata kepadanya, “Kakakku, hari ini ulang tahunku. Aku tidak punya sebutir beras pun di mangkukku. Selain itu, aku tidak punya mangkuk lagi untuk diletakkan di atas meja, juga tidak punya meja untuk menghias rumahku. Bahkan aku tidak punya rumah. Dapatkah kamu membantuku?”
Si kakak mengulurkan segenggam beras. “Tanamlah beras ini. Ini akan menjadi awal keberuntunganmu,” katanya kepada Tang. Tang tidak menyadari lelucon itu. Ia justru mengucapkan terima kasih kepada kakaknya dan pergi ke ladang untuk menyebar beras itu. Ia menunggu, dan menunggu, dan hanya sebatang kecil berwarna hijau muncul secara ajaib dari tanah. Tang senang sekali. Ia merawat tanaman itu dengan sukacita. Ia menjaganya, menyingkirkan rumput-rumput liar, dan mengusir ulat-ulat.
Batang kecil itu tumbuh dengan cepat dan akhirnya berkembang menjadi pohon yang cabang-cabangnya begitu besar dan panjang sehingga mampu menaungi seluruh ladang Tang. Butir-butir padi sebesar bulir jagung menggantung di cabang-cabangnya. Ketika waktu panen tiba, pemuda itu mengambil kapak dan merobohkan pohon ajaib itu. Tepat ketika pohon tersebut menyentuh tanah, seekor burung raksasa berbulu warna-warni keluar dari antara pepohonan.
Burung itu mencengkeram batang pohon itu dengan cakar-cakarnya dan terbang. Tang yang marah karena hasil tuaiannya diambil, meraih sebuah cabang terdekat dan mendapati dirinya bergantung antara langit dan bumi. Ketika si burung melihat bahwa Tang bergelayut di sana dan tidak mau menlepaskannya, ia segera mendarat di atas pasir pantai dan berkata, “Berikanlah pohon ini kepadaku, aku akan membawamu ke gunung yang batu-batunya terbuat dari emas dan perak.”
“Baiklah, ayo kita pergi,” jawab Tang. Burung itu mengantarnya ke sebuah pulau bergunung yang berkilauan. “Bergegaslah, karena gunung ini kepunyaan Matahari. Jika kamu masih di sana ketika ia pulang untuk tidur, ia akan membakarmu dengan sinarnya dan kamu akan mati,” pesan si burung.
Tang memandang sekelilingnya, mengambil segumpal emas dan berkata, “Aku sudah selesai. Ayo kita pergi.” Burung itu heran melihat bahwa pemuda itu sama sekali tidak tamak. Tanpa berkata apa-apa, ia mengantarkan Tang ke rumahnya.
Pada hari-hari berikutnya, Tang membeli sebuah rumah yang kokoh, menempatkan meja di dalamnya, meletakkan mangkuk-mangkuk baru di atas meja tersebut, mengisi lumbung padinya, dan ia mengundang kakaknya untuk makan malam. Ia menceritakan pengalamannya yang ajaib.
Penuh dengan rasa iri, sang kakak memutuskan untuk berbuat sama seperti yang dilakukan Tang. Ia menyebarkan beras yang sudah ia masak, menjaga satu-satu batangnya, merobohkan pohon, dan membiarkan dirinya dibawa oleh burung ke gunung emas dan perak itu. Burung itu memberi pesan yang sama, “Bergegaslah, karena gunung ini kepunyaan Matahari. Jika kamu masih di sana ketika ia pulang untuk tidur, ia akan membakarmu dengan sinarnya dan kamu akan mati.”
Ketika burung itu kembali mengingatkan waktu, si sulung menjawab, “Kita masih punya waktu.” Ia masih sibuk mengisi kantung-kantungnya dengan bongkahan emas yang besar. “Ayo pergi sekarang! Aku melihat matahari kembali!” seru si burung.
“Aku hampir selesai. Sebentar lagi,” kata si Sulung sambil mengisi bajunya. Namun, ia telah menjadi begitu berat sehingga tidak bisa berjalan lagi. Sebelum ia sempat menyusul burung itu, Matahari muncul dan membakar dirinya menjadi abu. Kekayaan si sulung jatuh ke tangan si bungsu. Ia, tentu saja, membagikan kekayaan itu kepada orang-orang miskin di desanya dan tak seorang pun menyesali kematian si sulung.
#fairytale #dongeng #dongenganak #ceritaanak #fabel #30harimendongeng
Dikutip dari 30 Cerita Ulang Tahun, karangan Catherine Mory
Label:
30 hari mendongeng,
Cerita Anak,
Dongeng,
Dongeng Anak,
Fairy Tale
Senin, 08 September 2014
Day 18: Ulang Tahun Raja yang Jahat
Alkisah, di Tibet yang jauh, tinggallah seorang raja yang sangat egois. Ia hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia telah mencabuti semua bunga di padang dan menangkap semua burung di langit hanya untuk menghiasi istananya. Karena ulahnya ini, anak-anak di Tibet tidak pernah melihat bunga ataupun burung. Bahkan yang paling kecil sekalipun. Raja tetap tidak peduli. Yang penting ia bahagia.
Pagi itu, Raja ingin merayakan ulang tahunnya yang keenam puluh enam. Seperti tradisi di tahun-tahun sebelumnya, ia mewajibkan rakyatnya berkumpul sejak fajar di depan istananya dan membawa persembahan untuk menyenangkan hatinya. Pada saat matahari terbit, perempuan=perempuan, anak-anak, orang-orang lanjut usia, dan semua rakyatnya berkumpul di sana sambil menggigil kedinginan.
“Raja memerintahkan kita untuk datang sejak fajar, padahal ia sendiri bangun siang!” gumam seorang laki-laki tua berjanggut putih.
“Setiap tahun selalu begini. Selama berjam-jam, gigi kita bergemeletuk karena kedinginan,” seorang perempuan tua menambahkan.
Gemuruh kemarahan rakyat terdengar seperti gemuruh ombak di laut. TIba-tiba terdengar suara Zangpo, si Bengal. “Dengarkan aku. Aku hendak bertaruh dengan kalian.” Orang-orang tertawa berderai-derai, Mereka tahu benar siapa Zangpo dan reputasi leluconnya di daerah itu. “Tentang apa?” Tanya sebuah suara.
“Aku bertaruh, kalau Raja berdiri di atas balkon nanti, dia akan menggonggong.” Semua mulai tertawa karena ide ini terasa sangat menggelikan dan dapat mengalihkan kebosanan mereka. “Kalau kata-kataku benar, kalian harus memberiku seguci bir. Setuju?” Zangpo melanjutkan. “Setuju!” teriak beberapa suara.
Tepat pada saat itu, pintu balkon dibuka dan Raja dipersilakan untuk lewat. Dengan segera, Zangpo yang tahun bahwa Raja diam-diam sangat menggemari anjing, bergegas ke arahnya dan berseru, “Baginda. Saat ini di depan istana ada orang yang ingin menjual anjingnya. Anjing ini berasal dari spesies yang sangat langka. Saya pikir Raja akan menyukainya.”
“Coba kamu lihat bagaimana rupanya dan apakah dia dapat menggonggong dengan baik,” perintah sang Raja. Zangpo segera mencari jalan dengan menguak kerumunan orang dan pergi ke pintu istana dimana, tentu saja, tidak ada orang yang menunggu. Lalu dia kembali ke bawah balkon dan berteriak, “Baginda, anjingnya sangat bagus. Tingginya sedang, bulunya putih seperti salju, dan dia menyalak seperti anjing kecil!”
“Bodoh! Aku tidak akan pernah membeli anjing yang menyalak seperti anjing kecil!” seru raja.
“Benarkah? Lalu bagaimanakah anjing yang menggonggong dengan bagus? Barangkali di lain kesempatan, saya dapat mencarikannya untuk Baginda.” Kata Zangpo dengan nada kecewa.
“Dengarlah,” kata Raja kemudian. Raja meletakkan kedua tangannya di tepi balkon, mengangkat kepalanya, dan berteriak dengan kuat, “Guk, guk.”
Rakyat yang sudah begitu lama menunggu merasa sangat terhibur. Zangpo menang. Ia mendapatkan seguci bir yang layak diperoleh karena kecerdikannya.
#fairytale #dongeng #dongenganak #ceritaanak #fabel #30harimendongeng
Dikutip dari 30 Cerita Ulang Tahun, karangan Catherine Mory
Label:
30 hari mendongeng,
Cerita Anak,
Dongeng,
Dongeng Anak,
Fairy Tale
Rumah itu...
“Telah letih langkahku dan terasa berat
Cukup banyak kesalahan ku buat
Di mimpiku kudengar bunyi suaramu
Yang memanggilku pulang ke dalam hatimu…”
Lagu ini tiba-tiba terngiang di telingaku. Berputar terus tanpa henti sebelum aku tertidur. Aku menunda rencana kencanku dengan kasur dan bantal. Takut semuanya menghilang dalam mimpi. Aku bangkit berdiri dan menyalakan lampu meja belajarku. Pandanganku tertambat pada kertas kecil berwarna yang menunjukkan sebuah bangunan dan seulas senyum beberapa wajah yang ikut terlihat di situ. Samar-samar terngiang suara tawa dan canda di rumah itu. Betapa aku rindu rumah itu.
Pikiranku melayang terbang. Jauh ke masa-masa dimana aku tinggal bersama mereka. Masa-masa dimana aku tidak merasa sepi sendiri di perantauan ini. Ingatanku berjalan bersama foto-foto di album biru yang hampir kumal dimakan usia. Rumahku. Masuk ke dalamnya, tak pernah ada pagar besi ataupun kawat yang menghalangi orang-orang untuk datang ke situ. Pun tak ada satpam ataupun gerbang pendeteksi logam. Penghuni lama, penghuni baru, calon penghuni, tamu-tamu yang diundang maupun tak diundang, bahkan pencuri bebas keluar masuk ke rumahku. Ya, rumahku memang tak pernah terkunci.
Kami tak punya lahan besar untuk dijadikan taman yang indah seperti orang-orang kaya. Pelataran rumah kami, alih-alih penuh tanaman cantik, malah penuh dengan berbagai meja, kursi, atau apa saja yang tak muat diletakkan di dalam rumah. Rumah kami kecil. Terlalu sempit dan tidak menerima banyak perabotan. Pelataran itu jadi saksi bisu obrolan kami yang tak kunjung habis. Mulai dari gosip murahan di rumah kami, keluhan-keluhan tugas yang tidak ada habisnya, informasi seputar dunia luar. Semuanya. Lahan kecil rumahku indah dengan caranya sendiri. Ia indah dengan tawa, tangisan, dan cerita dari penghuninya. Bahkan mawar-mawar di kebun sebelahpun kalah cantik dengan lahan kecil kami ini.
Rumahku tak besar, namun selalu cukup untuk kami semua. Bukan rumah ideal untuk beberapa orang. Ruang tamu kami yang kecil terkadang jadi ruang tidur apabila kami lelah. Tidak peduli anggota keluarga lain, aku pun sering menyabotase satu kursi untuk tertidur ketika lelah belajar. Ruang tamu kami yang mungil bisa disulap menjadi ruang keluarga, dimana kami semua menikmati kebersamaan yang tak pernah bisa tergantikan di situ. Menonton film di layar yang besar, belajar bersama, mengerjakan tugas, latihan menyanyi atau bermain musik, bahkan makan dan minum. Ruang tamuku memang sempit, namun rasa cinta dan selalu ingin bersama membuatnya selebar lapangan sepak bola.
Banyak air mata tertumpah di rumah kami. Banyak perselisihan terekam di dinding-dinding rumah kami. Namun selalu ada pintu maaf terbuka lebar, selebar pintu rumah kami yang terbuka. Selalu ada rasa hangat yang mencairkan kekakuan yang muncul, bahkan ketika menyambut para penghuni baru. Ada rangkulan mesra dan ciuman kasih yang menyambut mereka, apapun kelebihan dan kekurangannya. Yang muda menghargai yang tua, yang tua mengasihi yang muda. Rasa gengsi dan dengki hanya bisa mampir di rumah kami sesaat. Mereka terusir keinginan untuk berjalan bersama dan menghabiskan waktu di rumah itu bersama-sama sampai nafas terakhir. Rumah itu sempurna di mataku.
Langkahku begitu berat ketika meninggalkan rumah itu. Sekian miliar kenangan terendap di memoriku. Memaksa mataku untuk mengalirkan sungai hampir di setiap malamku dulu. Pucuk demi pucuk surat terkirim untuk mengikis rasa rindu. Banyak cerita yang tercetak di setiap balasannya. Ada yang menggembirakan, banyak pula yang membuat hati pilu.
Kata mereka, pintunya kini tak terbuka lebar lagi. Terkunci hampir setiap waktu. Bukan. Rumahku tak menambah gembok di pintu pagarnya. Hati penghuninya yang terkunci. Tatapan serius ada di wajah mereka. Entah kemana tawa-tawa yang dulu selalu hadir di setiap pagi dan sore kami… Entah kemana canda dan gelak yang selalu bermain di siang dan malam kami. Ada perasaan aneh yang tak bisa diungkapkan penghuni rumah itu. Entah apa.
Pelataran yang dulu penuh dengan cerita, sekarang dipenuhi ilalang yang tinggi. Setinggi ego para penghuni yang ingin semua keinginannya terwujud. Entah mengapa.
Ruang tamu yang sempit terasa semakin menghimpit sesak dengan kekosongan di sana. Ada rasa sakit yang menghujam. Ada perasaan yang tak pernah bisa diungkapkan. Ada dendam yang tak tersalurkan. Ada cinta yang hanya bisa terukir di batang pohon. Ada topeng-topeng yang berserakan. Ya. Rumahku kini semakin mirip dengan panggung teater. Kebaikan dan ketulusan yang kau temukan tidak boleh dicerna bulat-bulat. Ruang tamu terasa kosong walaupun para penghuni selalu duduk bersama di situ sepanjang hari. Terasa aneh memang. Namun, begitulah yang dirasakan mereka.
Setiap surat yang sampai terasa ditulis dengan darah. Semakin banyak kata-kata terungkap, semakin perih luka tersayat. Semakin banyak kicauan yang mampir, menumbuhkan rasa rindu yang dikalahkan dengan rasa terlupakan dan tersisihkan.
Kata mereka, banyak cendekiawan yang kini merapikan rumah kami. Orang-orang pintar menggantikan kami yang bodoh di sana. Entah apa maksudnya. Aku tak pernah mengerti sampai detik ini.
Tidak ada lagi yang menungguku pulang. Tidak ada rasa cinta yang menuntunku untuk pulang ke rumah itu. Bahkan tidak ada lagi suara di mimpi-mimpiku. Semua terlalu sibuk dengan berbagai catatan pribadi yang tidak boleh dibagikan. Bahkan untuk sekedar duduk bersama dan bercerita tentang hidup masing-masing. Ini rahasia, katanya. Tak boleh ada yang tahu tentang cerita masing-masing jiwa yang bersemayam di sana.
Rumah itu.
Aku rindu rumah itu.
Tempat aku bisa pulang ke rumah,
karena rumah itu adalah rumahku.
Rumah kami.
Rumah kita.
Ps: ini bukan dongeng... ini tulisan saya pribadi... yang tidak bisa terungkapkan kepada banyak orang karena satu dan lain hal. Saya muak dengan keadaan 'rumah' sekarang. Banyak hal yang belum saya pahami, atau memang tidak perlu saya pahami lebih dalam daripada makin menyakitkan hati, tentang rumah ini. Semoga suatu saat, rumah ini kembali jadi rumah saya. Rumah semua orang yang pernah hadir, walaupun sempat pergi di dalamnya.
PPs: lagunya saya pinjam dari "Pulang Ke Hatimu, ost. film 9 naga" dan fotonya saya pinjam dari kotastar.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)




